Selamat Datang Sahabat Media Literasi Guru. Yuk, kirim tulisanmu ke medialiterasiguru@gmail.com dan konfirmasikan karyamu di 081225183113

Minggu, 08 September 2019

Dian Marta

Esai yang Benar Itu ....

Doc. Pribadi
Kamis lalu (5/9/2019) saya berkesempatan mempresentasikan esai yang telah saya tulis beberapa bulan yang lalu. Di dalam esai itu saya mengulas tentang Kesantunan Berbahasa Masyarakat Samin yang ada di kabupaten Blora Jawa Tengah. Saya sengaja memilih Samin karena bagi saya Samin adalah tokoh yang nyentrik dan masih banyak dianggap negatif oleh masyarakat luar. Melalui esai tersebut, saya ingin meluruskan pandangan khalayak tentang Samin yang sebenarnya.
Saat presentasi di depan dewan juri, banyak masukan yang diberikan kepada saya. Salah satunya adalah tentang cara penulisan esai. Ya, teknik penulisan esai memang lebih banyak diulas daripada konten/isi dari esai saya. Menurut Pak ES Wibowo esai saya sudah mengambil tema yang menarik karena mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Namun untuk teknik penulisan ada banyak hal yang perlu mendapat perhatian.

Menurut Pak ES Wibowo yang memberikan ulasan pasca semua peserta menyampaikan presentasi, dari 104 karya yang masuk 40% masih berupa karya ilmiah. Bahkan ada esai yang dilengkapi dengan abstrak.
"Mana ada esai yang diabstrakkan? Esai tidak bisa diabstrakkan" kata beliau
Esai adalah karya ilmiah populer semi sastra, bukan karya ilmiah utuh. Kekuatan esai ada pada tema, gagasan, dan argumen. Adapun data maksimal hanya 20%, itu pun hanya untuk pendukung argumen saja. Jadi tidak ada esai yang diberi endnote, rujukan, apalagi daftar pustaka. 

Bang Saroni sebagai juri esai kategori remaja menambahkan, esai sangat berbeda dengan laporan penelitian. Minimnya pengetahuan tentang esai tidak dapat menyalahkan pemerintah atau siapapun. Mengingat beberapa LPTK saat menyelenggarakan lomba esai masih mencantumkan bab dan daftar pustaka pada juknis penulisan esai. Namun hakikat esai yang "benar" bagi seorang pembelajar sejati haruslah tahu. Esai bukan mengharamkan kutipan. Tapi kutipan menjadi penguat. Penilaian subjektivitas penulis adalah bobot tertinggi dari esai. Perlu diketahui lagi bahwa esai hendaknya dilengkapi dengan hiburan-hiburan ringan. Aspek menghibur dihadirkan dalam esai. Misal menambahkan percakapan, puisi, atau pantun. 

Masih dalam acara yang sama, Pak Tirto kepala Balai Bahasa Jawa Tengah menyampaikan perbedaan esai dan artikel juga. Jika esai dapat dikatakan tulisan yang tidak serius, artikel memiliki rasa lebih serius saat dibaca. Jika esai melempar masalah maka artikel menyelesaikan masalah. Menulis esai bisa diawali dengan apa saja. Esai dapat diawali dengan percakapan, lagu, dan lain sebagainya.

Berbahagialah kita yang masih senantiasa mau belajar. Belajar tak pernah mengenal usia. Belajar sepanjang hayat. (DM)

Dian Marta

About Dian Marta

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :