Selamat Datang Sahabat Media Literasi Guru. Yuk, kirim tulisanmu ke medialiterasiguru@gmail.com dan konfirmasikan karyamu di 081225183113

Senin, 04 Februari 2019

Dian Marta

Inovasi Menulis Puisi dengan Metode Suggestopedia

Cover Kumpulan Puisi/medialiterasiguru.com
medialiterasiguru.comMinat dan kemampuan menulis puisi pada siswa SD khususnya di kelas V selama ini masih rendah. Puisi dianggap sebagai materi pembelajaran yang sulit. Kesulitan itu muncul karena pembelajaran menulis puisi cenderung monoton, kaku, tidak variatif dan tidak ada sugesti positif kepada mereka.  Metode pembelajaran puisi yang konvensional dan tidak menyesuaikan zaman menjadi sumber kesulitan dalam pembelajaran menulis puisi. Peserta didik belum mampu memilih kata, frasa, kalimat indah dan bermakna. Sebagian besar peserta didik hanya menulis bait puisi sebagai formalitas tugas dari guru. 

Berdasarkan hambatan tersebut, pendidik perlu mencari metode yang tepat dan bernas. Alternatif metode yang dapat dipilih adalah metode suggestopedia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan. Salah satu alat interaksi manusia adalah bahasa. Bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan ide, gagasan, perasaan, dan juga keinginan. Begitu pula dengan minat literasi harus dimunculkan sejak dini. Kecintaan anak
menulis bisa berkembang ketika mereka memiliki ketertarikan terhadap puisi yang ditopang media pembelajaran relevan, memberi sugesti yang bisa menggerakkan mereka menciptakan puisi. 

Strategi suggestopedia memerlukan atmosfir fisik yang mendukung proses pembelajaran. Atmosfir itu terdiri atas ruangan yang kondusif, cahaya terang, kursi yang nyaman untuk duduk, hiasan kelas yang nyaman dilihat, kelengkapan LCD dan sound system, serta video yang siap untuk disajikan bagi siswa.

Implementasi pengembangan sugesti berupa lagu-lagu penyemangat atau lagu nasional, musik senam, dan terakhir adalah film karya Rumah Tanpa Jendela karya Asma Nadia yang dinilai peneliti mampu menginspirasi siswa untuk menggali ide dari sudut pandang ide yang beraneka ragam. Hal ini serupa yang dilakukan oleh Fahriaty (2013: 93) bahwa prinsip suggestopedia adalah adanya kelas yang kondusif, adanya musik, dan adanya relaksasi. 

Guru telah menyiapkan lagu Laskar Pelangi dan sound system. Siswa mendengarkan lagu selama kurang lebih 2 menit kemudian guru mengajak siswa untuk bernyanyi bersama-sama dengan penuh penghayatan. Siswa yang tidak mau ikut bernyanyi didekati oleh guru dan dipegang pundaknya. Setelah siswa mau bernyanyi, guru berputar sambil bertepuk tangan untuk menyemangati siswa. Setelah kondisi siswa merasa nyaman, guru mematikan LCD tapi tetap menghidupkan musik-musik nasionalisme dan penyemangat. Siswa menulis puisi sambil mendengarkan musik lagu back song film Rumah Tanpa Jendela yang telah dipersiapkan oleh guru. Ketika siswa menulis, guru berkeliling dan mengingatkan bahwa tulisan yang rapi pasti akan lebih dilihat daripada tulisan yang tidak rapi. Hal tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa agar tidak tertekan saat menulis puisi.

Setelah siswa menulis puisi bebas, tugas guru adalah mengoreksi hasil karya siswa. Guru memberikan masukan bagi setiap hasil karya yang dibuat oleh siswa. Pada pertemuan berikutnya, guru memperkenalkan senam Baby Shark yang saat ini cukup viral di kalangan anak-anak. Siswa sangat antusias dalam mengikuti senam. Hal itu terlihat dari gerakan-gerakan yang dilakukan siswa sama seperti gerakan pada video. Wajah siswa juga terlihat sangat semangat ketika mengikuti senam. Saat siswa sudah mulai semangat dalam mengikuti kegiatan di dalam kelas. Guru memutar film Rumah Tanpa Jendela yang sebelumnya siswa hanya mendengar soundtrack lagu pada film tersebut. Siswa duduk dengan rapi dalam ruangan yang sudah didesain secara kondusif. Sebelum menonton film, guru telah memberikan gambaran nama-nama tokoh yang akan muncul dalam film tersebut.

Kegiatan menonton film Rumah Tanpa Jendela ini berlangsung cukup lama. Tugas guru adalah memberikan motivasi di sela-sela adegan film. Seperti adanya tokoh Rara yang memiliki impian sederhana untuk memiliki sebuah jendela. Ada pula tentang kisah Aldo, anak tuna wicara yang memiliki empati besar pada anak-anak rumah singgah di sebuah perkampungan pemulung. Hingga pada suatu ketika Aldo juga menyumbangkan buku-bukunya untuk rumah singgah Rara.

Rasa ingin tahu siswa sangat besar untuk mengikuti perkembangan kisah film ini. Beberapa siswa sampai duduk maju ke depan untuk bisa melihat adegan film dengan lebih jelas. Film dengan genre anak-anak ini sangat menarik karena juga terdapat lagu-lagu dalam setiap adegannya.

Setelah film berjalan 1 jam, guru membagikan lembar kerja menulis puisi. Sebelum menulis puisi siswa disugesti untuk memejamkan mata selama 2 menit. Siswa diminta membayangkan titik kisah mana yang menurut mereka paling menarik. Siswa juga diminta membayangkan bagian kisah mana yang ada hubungannya dengan kisah hidup mereka. Melalui mengenal nilai-nilai yang ada di dalam film, siswa diminta menyampaikan gagasannya dalam wujud selembar puisi. Durasi yang diberikan guru bagi siswa  selama 30 menit. Dalam waktu tersebut siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan menonton film sambil menyusun puisinya. Saat film selesai, saat itu pula waktu yang diberikan oleh guru bagi siswa selesai.

Lembar kerja dikumpulkan kepada guru pada hari itu juga. Guru melakukan proses penyuntingan yang dalam tahap Alek dan Achmad (2011: 107) masuk pada langkah ketuga yaitu editing. Guru menyunting kerapian tulisan siswa dan beberapa diksi yang dirasa kurang relevan dengan judul yang telah ditentukan oleh siswa. Setelah proses penyuntingan selesai, guru mengetik hasil karya siswa dan mengaturnya dalam template buku dengan ukuran kertas A5. Tulisan diketik dalam format Times New Roman dengan ukuran 12. Hasil tulisan siswa kemudian diserahkan kepada penerbitan. Penerbitan yang ditunjuk oleh peneliti adalah penerbit Pilar Nusantara. Naskah diberikan kepada penerbit untuk diterbitkan dalam sebuah buku yang diberi judul “Kumpulan Puisi Kelas 5B SDN Sampangan 01” yang terinspirasi oleh film Rumah Tanpa Jendela.

Buku bunga rampai kumpulan puisi siswa ini dijadikan referensi bahan literasi kelas yang selama ini dikembangkan oleh guru di pembelajaran kelas 5B. Siswa sangat antusias saat melihat puisi-puisi karya mereka telah terkumpul menjadi sebuah buku. Siswa saling merebut dan berlomba-lomba untuk cepat membaca hingga selesai.

Keberadaan buku kumpulan puisi ini ternyata memberikan efek positif bagi siswa. Berdasarkan pengamatan guru, siswa menjadi semakin aktif dalam membawa. Terutama membaca buku kumpulan puisi mereka. Mereka merasa bangga karena telah menjadi seorang penulis cilik. Hal ini memberikan motivasi bagi siswa untuk lebih rajin menulis dan mengikuti instruksi yang diberikan guru dalam kegiatan berliterasi. Bahkan data yang diperoleh dari hasil wawancara bersama DF menyatakan bahwa “Bu, besok-besok nonton film sambil buat puisi lagi ya Bu. Saya suka dan saya pengen punya buku lagi”. Kondisi ini adalah awal yang baik bagi guru untuk semakin membangkitkan semangat siswa tidak hanya membaca tapi juga menulis. Mengingat menulis meruakan keterampilan berbhasa yang sifatnya produktif.

Dampak lain dari kegiatan menulis puisi bebas melalui metode suggestopedia adalah keingintahuan siswa dalam menulis puisi yang baik semakin berkembang. Siswa yang semula malas menulis menjadi termotivasi untuk memperbaiki tulisannya. Mereka ingin saat tulisannya dibaca orang lain akan mendapatkan penilaian yang bagus.(DM)

Dian Marta

About Dian Marta

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :