Selamat Datang Sahabat Media Literasi Guru. Yuk, kirim tulisanmu ke medialiterasiguru@gmail.com dan konfirmasikan karyamu di 081225183113

Advertise Here

Rabu, 25 September 2019

Dian Marta

Rondho Teles Kidul Ndalan


Rondho Teles Kidul Ndalan
Kaanggit dening Dian Marta Wijayanti

Jenenge Jumirah
Aku biasa nyeluk deweke Yu Jum
Umure sakjane isih sakngisorku
Patlikur taun kira-kirane
Nanging penggaweane dodolan brambang
Sing nggawe wong-wong podho nyeluk "Yu"

Dedeke gedhe dhuwur
Kulite resik tur ngguyune seger sumebyar
Mung kanggoku rodo pesek sithik

Raine sing ayu ra bakal dinyana-nyana
Yen sejatine deweke rondho
Eh
Udu rondho
Mung ditinggal bojone mbuh ngendhi parane
Mak tratap batinku yen krungu tangis anake
Mbok menawa kangen bapake

Tapi kuwi mbiyen
Sakdurunge Jumirah ngidak-idak atiku
Sakdurunge Jum nggebyur awu ning raiku
Wani-wanine Jum nyedhaki bojoku
Woh,  rondho teles kidul ndalan
Sepine ati koisi kanthi ngremet atine liya
Tanpa mreduli nasibe tangga
Dhasar wong wedhok murahan
Rondho kok ajak-ajak
Rumangsamu kowe kuwi sopo
Wanita pendosa
Kang lali titahe Gusti
Menungsa kuwi kudu bisa njaga ati
Ora kaya wong edan sing ora mreduli

Semarang,  25 September 2019

Minggu, 22 September 2019

Dian Marta

Aku Pernah Cantik


Oleh Dian Marta Wijayanti

Sebelum cincin bermata putih ini melingkar di jariku, aku tak pernah membayangkan akan bersahabat dengan tumpukan pakaian kotor, deterjen bubuk, dan ember-ember besar yang berjejer di bawah tali jemuran. Kuku-kuku cantikku pun tinggal kenangan. Tidak ada lagi hiasan di ujung kuku, apalagi kutek-kutek merona yang sering ku koleksi semasa muda dulu. Kulit tanganku yang halus pun mulai mengelupas akibat zat kimia dari detergen yang setiap hari harus bersentuhan denganku. Ah, beginikah rasanya jadi ibu rumah tangga.
Tidak hanya satu ember pakaian basah. Tapi ada dua atau tiga ember yang setiap hari harus menjadi santapanku. Maklum saja, aku memiliki anak kecil berusia tiga tahun yang sering berganti pakaian. Saat kesal aku pun tidak jarang menyeret ember cucianku ke tempatku menjemur.
“Kerjaan apa lagi ini, tali jemuran harus kendor pula” gerutuku pagi ini. Mau tidak mau aku harus mengambil kursi tua dari pojok dapur untuk membenarkan tali jemuran yang cukup tinggi bagi orang setinggiku.
“Mas suami sudah berangkat kerja, minta tolong Naura pun tidak mungkin. Yo wes lah (ya sudahlah)”
Subuh tadi Semarang diguyur hujan. Halaman belakang rumah yang notabene masih tanah berlumpur menyisakan becek-becek basah sisa hujan. Sandal jepit swallow milik suami yang ku kenakan memuncratkan air sampai mengenai daster bunga-bungaku. Daster yang ku beli pasca lebaran tahun lalu.
Pagi ini rasanya jengkel sekali. Usai membenarkan tali jemuran, satu per satu cucian ku jepitkan pada tali itu. Sedangkan pakaian-pakaian Naura ku bariskan pada jemuran melingkar yang dibeli oleh neneknya sewaktu bayi dulu.
Plakkkkk
Seragam suamiku terjatuh. Warnanya putih dengan simbol tambah (+) berwarna hijau di sakunya. Bagaimana aku tidak semakin jengkel. Baju putih itu jatuh tepat di atas kubangan lumpur. Aku harus memungut pakaian itu dan membilasnya kembali hingga bersih. Kalau suamiku tahu, pasti ia akan sangat marah. Lagipula, salah satu harga diri seorang istri adalah melihat suaminya berpakaian bersih dan rapi saat ada di luar rumah. Istri macam apa yang tega membiarkan suaminya mengenakan pakain kotor dan kusam. Meskipun marah, aku tetap membersihkan kotoran yang menempel pada sela-sela pakaian.
Kemarahanku adalah sisi kiri dari karakterku. Hanya gadis kecilku yang tahu dan melihat wajah muramku. Suamiku, orang tuaku, mertuaku, bahkan tetanggaku tak ada yang pernah tahu. Mereka hanya tahu aku adalah sosok istri sempurna yang rela meninggalkan pekerjaanku di bank demi keluarga.
Sejak lulus kuliah aku memang bekerja di sebuah bank internasional dengan jabatan dan gaji yang cukup tinggi. Aku tak pernah kekurangan uang. Aku juga tidak pernah kepanasan. Aku hidup berkecukupan dalam segala hal. Aku pun tak pernah kepanasan. Ruang kerjaku dipenuhi dengan AC. Kulitku yang putih terlihat semakin cantik dengan tambahan blush on pink yang tidak pernah lupa ku kuaskan di pipi.
Papa dan mamaku juga memfasilitasiku dalam kemewahan. Rumahku ber AC, lulus kuliah aku sudah dibelikan mobil baru, gajiku pun utuh karena papa dan mama memenuhi semua yang menjadi kebutuhanku. Tapi itu dulu. Kehidupanku di masa silam. Masa sebelum aku mengenal Mas Wildan.
Tak pernah ku berpikir aku akan jatuh cinta pada lelaki yang diambil anak asuh oleh kedua orang tuaku itu. Mas Wildan adalah anak dari Mak Jumprih, asisten rumah tangga di keluargaku. Mak Jumprih juga yang mengasuhku dan kedua kakakku. Sebagai anak bungsu aku memang sangat dimanja oleh papa mama beserta kakak-kakakku.
Keputusanku menerima pinangan mas Wildan adalah berita besar yang menggemparkan keluarga besarku. Berat bagi mereka menerima keputusan ini. Tapi papa dan mama termasuk orang tua yang bijak. Mereka tak pernah memandang seseorang dari kasta, status sosial, maupun jabatan. Apalagi papa dan mama sudah mengenal Mas Wildan sejak kecil.
“Jadilah istri seutuhnya untuk suami dan anak-anakmu” pesan papa yang sampai saat ini masih ku genggam sebagai pegangan hidup.
Sejak awal pernikahan mas Wildan memang tidak pernah melarangku bekerja. Ia hanya ingin apapun yang menjadi pilihanku aku tetap bisa melaksanakan tugas sebagai istri dan ibu yang baik untuk keluarga.
Mandiri bukanlah sifatku. Keadaan yang membangun karakter ku hingga seperti ini. Aku merasa tak mampu melaksanakan kewajibanku jika aku masih bekerja. Apalagi bekerja di bank. Aku masih meninggalkan rumah sejak pagi hingga petang. Tentu saja aku tidak bisa merawat suami dan anak-anakku dengan baik.
Aku dan Mas Wildan memang memutuskan untuk hidup mandiri di sebuah rumah kecil yang kami beli dari tabungan berdua.  Biar kecil yang penting rumah tangga kami jauh dari ikut campur dari keluarga besar. Aku pun tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga untuk mengurus rumah tanggaku. Semua pekerjaan rumah ku kerjakan sendiri meskipun dengan prinsip sebisaku dan semampuku.
Dulu aku selalu wangi. Aku tak pernah membayangkan melemparkan ayam bumbu ke dalam wajan karena takut dengan percikan minyak goreng. Tidak pernah juga membayangkan rasanya kulit melepuh karena minyak goreng panas yang muncrat.
Rambut yang sebelumnya rajin ku masker setiap akhir pekan saat ini hanya cukup ku bersihkan dengan shampoo dan condisioner yang ku beli dari minimarket depan rumah.  Ada rasa “eman” ketika harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk pergi ke salon untuk sekadar memperindah rambut.
“Aku bukan teller bank yang harus berpenampilan perfect di depan customer. Sekarang aku harus berkecimpung dengan rutinitas yang sangat menjemukan. Aku sudah tak secantik dulu lagi” lagi lagi aku menggerutu berperang dengan batinku. Sementara Naura sejak tadi asyik bermain dengan boneka kesayangannya.
***
Anggrek ungu di dalam vas kaca menghiasi ruang keluargaku. Setiap 3 hari sekali aku emmang rajin menggantinay dengan yang baru. Aku sangat menyukai keindahan. Karena bagiku, keindahan dapat menjaga mood ku dalam menjalani aktivitasku. Sempat suatu ketika Mas Wildan datang dengan membawa martabak telor kesukaanya. Martabak telor memang kesukaannya sejak masih bujang. Sementara aku hanya bertugas menyiapkan martabak lengkap dengan acar dan cabe hijau sebagai pelengkapnya. Kadang aku berpikir, kenapa yang dibeli hanya martabak? Aku juga ingin makan jajanan kesukaanku. Seharusnya ia tahu aku sekarang tidak bekerja dan tidak memiliki uang pegangan pribadi.
Terkadang saat cucian di dapur menumpuk bak gunung, ingin rasanya aku bunuh diri dengan meminum sabun cair hijau di botol itu. Aroma jeruk nipis dari dalam botol sepertinya akan terasa segar jika ditambah es batu dan sedikit madu. Setelah bercampur ku aduk ketiganya dan segera meneguknya sampai keluar busa dari mulutku. Aku pasti akan roboh terkapar di lantai dapur tanpa lagi melihat Naura menangis, tersenyum, atau memanggilku “Mama”. Tapi aku belum ingin mati.
Jika ingin mati sudah sejak dulu seharusnya bisa ku lakukan. Saat Naura belum hadir di tengah kami. Saat aku benar-benar belum bisa berdamai dengan kenyataan yang membelengguku. Saat aku belum menyandarkan syal merah ungu yang membuatku semakin terlihat cantik saat bekerja di kantorku yang dulu. Ada Naura gadis kecilku. Gadis kecil yang senantiasa memperhatikanku tanpa tahu apa yang sedang terjadi dengan mamanya.
Setiap kali aku menyisir rambut panjangku di depan cermin, aku masih saja sering bergumam, “Aku dulu lebih cantik dari ini”. Dulu aku berpikir menjadi ibu rumah tangga tidaklah sehoror dan membosankan seperti ini. Memilih rumah yang kecil adalah alasanku agar tidak terlalu lelah dalam merapikannya. Ternyata sama saja. Bahkan ketika Naura sudah mulai mengenal berbagai macam mainan dan makanan. Tidak jarang ia membuang mainannya ke sana dan kemari. Biskuit renyah yang menjadi cemilannya pun selalu mnejadi bagian yang ku bersihkan setiap hari. Sampai-sampai aku tak bisa menghitung, sudah seberapa sering aku mengepel lantai karena kotoran yang jatuh di ubin.
Andai bocah itu bisa dikembalikan ke perutnya, mungkin Naura sudah kembali ke perutku. Seringkali aku uring-uringan ketika Naura membuat ulah yang sebenarnya wajar bagi anak-anak seusianya. Namun beberapa menit kemudian penyesalan pun aku rasakan. Betapa aku ini ibu yang kejam bisa berpikir demikian kepada anak sendiri. Sementara jika mengingat perjuanganku dulu saat melahirkannya. Aku merasa seperti di ujung tanduk kematian merasa sakit yang teramat perih setelah penantian Sembilan bulanku mengandungnya.
“Maafkan mamamu yang gila ini Nak”
Saat aku tidak bisa mengendalikan diri, aku hanya bisa berlari ke kamar mandi agar Naura tidak melihat mamanya yang sedang kumat stresnya. Stres yang ku rasakan  saat ini adalah bentuk perlawanku terhadap kenyataan rumah tangga bersama Wildan.
Wildan yang menikahiku empat tahun silam tidaklah sama dengan Wildan yang sekarang. Meskipun tidak terlalu tampan, tapi mas Wildan yang dulu sangat rajin beribadah, ramah, penyayang, dan pandai mencuri hatiku. Bahkan seringkali ia memberiku surprise dengan membelikan barang-barang sederhana yang sudah cukup membuatku bangga menjadi istrinya. Mas Wildan juga selalu mengajakku makan malam di luar ketika penghubung minggu tiba. Hari Minggu adalah hari penuh keromantisan bagi kami. Kami saling memadu kasih dan menyelesaikan pekerjaan rumah berdua. Tidak jarang Mas Wildan pun mau mencuci pakaian yang aku geletakkan di ember. Banyak orang terpukau dengan keromantisan kami berdua. Kakak-kakak perempuanku juga sering merasa iri karena suami-suami mereka tidak ada yang seramah dan seromantis mas Wildanku.
Namun semua itu berakhir ketika aku melahirkan Naura. Mungkin tubuhku memang tidak seindah dulu. Wajahku mulai kusam dengan garis-garis tidak jelas melenggang ke sana kemari. Mataku pun seperti mata panda. Mungkin karena aku kurang tidur dan lebih banyak menangis. Sambil menunggu suamiku pulang, aku sering berlama-lama di depan cermin. Aku masih mencari jejak-jejak kecantikan yang dulu banyak menjadi perhatian para pria tampan di kampusku.
Di kampus aku memang termasuk mahasiswa yang cukup cantik dan menarik. Postur tubuh dan kecerdasanku saat itu membawaku menjadi salah satu nomine Duta Kampus. Piala-piala lomba kontes kecantikan dan fashion show juga banyak menghiasai almari rumah orang tuaku. Namun apa mau dikata, itu dulu. Aku sekarang hanya ibu rumah tangga biasa yang banyak menghabiskan waktu di rumah.
Kadang aku berpikir hidupku saat ini seperti mimpi. Bagaimana bisa aku memiliki kehidupan seperti ini pasca pernikahan. Andai saya suamiku mampu menggaji asisten rumah tangga, mungkin aku akan mengubah prinsipku untuk menggunakan jasa ART. Tapi aku menyadari keterbatasan penghasilan suamiku. Aku sangat menghormatinya sebagai imam dan pemimpin dalam rumah tanggaku. Meskipun ia hampir tak ada waktu untuk bercanda denganku maupun dengan Naura. Kecuali pada akhir pekan saat ia tak ada tugas tambahan untuk bekerja di luar kota.
Sesekali ingin sekali aku duduk bersandar di bahunya. Ingin sekali aku menggenggam tangannya sambal menceritakan kegelisahan dan lelahnya aku menjalani hari-hari. Namun semua itu hanya anganku saja. Aku tak cukup tega mengambil waktu istirahatnya untuk sekadar mendengar keluhanku. Apalagi saat ia sudah mengatakan
“Aku lelah Ma, besok masih harus berangkat pagi”
Ketidakmampuanku bercerita atau mengajukan sedikit protes semakin tidak bisa ku lakukan saat ia sudah mengecup keningku sebagai tanda ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Di matanya, mengecup keningku seperti sebuah formalitas yang sudah tidak ku kenali ruhnya lagi.
Saat kedua matanya mulai tidak memperlihatkan kedipan lagi, aku hanya bisa membalas dengan mengecup kedua pipinya. Sambil ku elus rambutnya yang hitam, aku yakin ia adalah lelaki terbaik dari Tuhan untukku. Banyak orang di luar sana yang menantikan cinta sejati. Cinta antara lelaki dan perempuan layaknya Adam dan Hawa.
Barangkali hanya selimut yang mampu menghangatkanmu malam ini dan malam-malam berikutnya. Sedangkan aku, aku masih mencari titik posisiku sekarang di hatimu. Aku masih mencari segala kekuranganku yang membuatmu berubah. Mungkinkah perhatian seseorang memang bisa luntur seiring berjalannya usia pernikahan? Atau mungkin aku yang terlalu baper dalam membawa diriku di angkasa cinta ini?
Langit-langit kamar adalah tempatku menyandarkan cermin asa dan harapan. Aku ingin terbang di udara bersamamu. Menikmati aroma cinta kesucian kita yang dulu. Menjaga kemesraan dan memantik kebahagiaan dalam mahligai pernikahan kita.
“Aku pernah cantik Mas. Aku pernah cantik dan masih cantik” bisikku di ambang kesunyian malam.







Minggu, 08 September 2019

Dian Marta

Esai yang Benar Itu ....

Doc. Pribadi
Kamis lalu (5/9/2019) saya berkesempatan mempresentasikan esai yang telah saya tulis beberapa bulan yang lalu. Di dalam esai itu saya mengulas tentang Kesantunan Berbahasa Masyarakat Samin yang ada di kabupaten Blora Jawa Tengah. Saya sengaja memilih Samin karena bagi saya Samin adalah tokoh yang nyentrik dan masih banyak dianggap negatif oleh masyarakat luar. Melalui esai tersebut, saya ingin meluruskan pandangan khalayak tentang Samin yang sebenarnya.
Saat presentasi di depan dewan juri, banyak masukan yang diberikan kepada saya. Salah satunya adalah tentang cara penulisan esai. Ya, teknik penulisan esai memang lebih banyak diulas daripada konten/isi dari esai saya. Menurut Pak ES Wibowo esai saya sudah mengambil tema yang menarik karena mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Namun untuk teknik penulisan ada banyak hal yang perlu mendapat perhatian.

Menurut Pak ES Wibowo yang memberikan ulasan pasca semua peserta menyampaikan presentasi, dari 104 karya yang masuk 40% masih berupa karya ilmiah. Bahkan ada esai yang dilengkapi dengan abstrak.
"Mana ada esai yang diabstrakkan? Esai tidak bisa diabstrakkan" kata beliau
Esai adalah karya ilmiah populer semi sastra, bukan karya ilmiah utuh. Kekuatan esai ada pada tema, gagasan, dan argumen. Adapun data maksimal hanya 20%, itu pun hanya untuk pendukung argumen saja. Jadi tidak ada esai yang diberi endnote, rujukan, apalagi daftar pustaka. 

Bang Saroni sebagai juri esai kategori remaja menambahkan, esai sangat berbeda dengan laporan penelitian. Minimnya pengetahuan tentang esai tidak dapat menyalahkan pemerintah atau siapapun. Mengingat beberapa LPTK saat menyelenggarakan lomba esai masih mencantumkan bab dan daftar pustaka pada juknis penulisan esai. Namun hakikat esai yang "benar" bagi seorang pembelajar sejati haruslah tahu. Esai bukan mengharamkan kutipan. Tapi kutipan menjadi penguat. Penilaian subjektivitas penulis adalah bobot tertinggi dari esai. Perlu diketahui lagi bahwa esai hendaknya dilengkapi dengan hiburan-hiburan ringan. Aspek menghibur dihadirkan dalam esai. Misal menambahkan percakapan, puisi, atau pantun. 

Masih dalam acara yang sama, Pak Tirto kepala Balai Bahasa Jawa Tengah menyampaikan perbedaan esai dan artikel juga. Jika esai dapat dikatakan tulisan yang tidak serius, artikel memiliki rasa lebih serius saat dibaca. Jika esai melempar masalah maka artikel menyelesaikan masalah. Menulis esai bisa diawali dengan apa saja. Esai dapat diawali dengan percakapan, lagu, dan lain sebagainya.

Berbahagialah kita yang masih senantiasa mau belajar. Belajar tak pernah mengenal usia. Belajar sepanjang hayat. (DM)